Oleh: Dr. Salman Faris (Dosen UPSI Malaysia)

Selama ini saya berjuang keras untuk selalu istiqomah berdiri di tengah-tengah. Karena saya selalu melihat keutamaan jamaah, kepentingan ummat. Saya menyadari, berada di tengah-tengah bukan mudah. Bahkan sekali waktu, ia jauh lebih berat dibandingkan keperpihakan.

Namun sekali lagi, saya berjuang kuat untuk setia di tengah-tengah. Akan tetapi, kali ini, saya mencoba bicara sebagai orang yang lahir, tumbuh, dan besar dalam kultur NW. Namun demikian, tetap melihat keadaan dari tengah-tengah.

Semua yang pernah nyantri, yang pernah mondok, yang pernah mencium kitab kuning meskipun tak bisa mendalam memahami isi kitab-kitab tersebut (seperti saya) pasti dapat merasakan apa yang saya rasakan sebagai murid, yang pernah diwajibkan bangun tengah malam, yang pernah merasa terhina hanya karena tak hafal-hafal matan jurumiyah dan alfiyah.

Pasti dapat memahami jika sekali waktu saya berkewajiban membela guru, membela masyaikh, membela ulamak tempat menyusun jejak barokah dan pengetahuan keagamaan. Sekali lagi, pasti dapat merasakan kemarahan, rasa ketersinggungan, rasa tercabik-cabik kehormatan guru, dan rasa-rasa lain yang bersentuhan dengan sifat wajib membela kehormatan guru.

Namun saya tidak mau menonjolkan rasa itu karena saya takut, guru saya tak berkenan sebab saya tahu, guru saya tak perlukan pembela. Ilmu, amal, dan pengabdian kemasyarakatan, kebangsaan, keagamaan, keilmuan yang sangat nyata itulah pembela guru saya yang tak dapat disangkal siapa pun. Bahkan pertanyaan saya ini, bisa jadi sebagai pembela beliau yang sohih.

“Siapakah orang Sasak yang lebih besar jasanya kepada Sasak selain guru saya?” Bagi para santri, pasti akan menyebut gurunya. Maka saya jawab juga, tiada orang Sasak sejauh yang saya pelajari, yang jasanya kepada Sasak melebihi jasa guru saya. Apa yang ditinggalkannyalah sebagai bukti utama saya. Mungkin banyak orang Sasak yang lebih berilmu, lebih sholeh, lebih wali dibandingkan guru saya.

Namun tidak ada orang Sasak yang berhasil mendirikan satu ormas keagamaan yang lebih besar daripada beliau. Sebagai murid, beliau adalah panutan utama saya dalam konteks melangitkan siapa dan bagaimana orang Sasak itu.

Di tengah semua orang berkiblat kepada Barat, termasuk berimam kepada Jawa, guru saya berani mengambil haluan lain yakni menunjukkan bahwa Sasak itu bisa lepas dari tempat dan bangsa apa pun. Sasak itu besar. Sekali lagi, berkaitan dengan pasal ini, saya tak punya panutan lain kecuali guru saya (maaf, jika terkesan melankolik).

Namun jika benar melankolik, ya tak masalah karena pesantren tidak mengenal istilah melankolik, melainkan karomah dan berkah. Untuk mendapatkan karomah dan keberkahan dari guru, santri tak boleh mendurhakai guru. Dengan kata lain, jalinan mesti terus terikat. Dari segi epistemologis, melankolik dengan karomah dan berkah mempunyai prinsip yang sama. Jadi, tak apalah seandainya saya dipandang melankolik hanya karena saya membela guru saya.

Kembali ke tengah-tengah tadi. Saya ingin menyampaikan perkara ini. Sejauh saya belajar dengan guru saya, lebih dari 13 tahun belajar secara langsung. Boleh saya katakan, beliau tak pernah mengajarkan tentang kebencian, perpecahan, kedurhakaan. Cinta yang beliau ajarkan ialah berlandaskan tauhid dan nasionalisme.

Jika beliau berbicara tentang Sasak, beliau akan meninggikan suaranya yang jernih itu dengan terus-menerus menyitir firman Alloh swt “al Jibala Autaada” yang beliau maknakan sebaga gunung merupakan pasek, merupakan tonggak, merupakan dasar suatu negeri, suatu bangsa. Lalu beliau meletakkan Sasak di dalamnya dengan penegasan bahwa tak mungkin Sasak lahir dari ruang kosong dan tak mungkin tumbuh menuju ruang kosong pula.

Pasti Tuhan mempunyai maksud menempatkan Sasak di bawah kaki gunung Rinjani. Begitulah beliau memperjuangkan Sasak dan menanamkan rasa cinta kepada Sasak. Namun bukan Sasak dalam tempurung yang beliau maksudkan. Melainkan Sasak yang meng-Indonesia, Sasak yang mendunia. Kadang sambil memperagakan, beliau menjelaskan bahwa sungguh tak berguna orang Sasak itu jika menghilangkan Indonesia atau tak berani melangkahi dunia.

Sejujurnya, waktu saya belajar itu, saya belum faham benar apa yang dimaksudkan beliau karena saya belum mengenal apa itu Sasak. Saya tidak tahu yang saya dilahirkan sebagai orang Sasak karena yang saya tahu, saya dilahirkan sebagai orang Islam dan NW. Dengan kata lain, melalui NW, beliau mengajarkan orang Sasak untuk mengetahui bahwa mereka adalah orang Sasak.

Setelah saya mencoba memasuki rimba Sasak itu, saya jadi serba sedikit mengetahui begitu banyak persoalan di dalamnya. Termasuk yang berkaitan dengan rintangan-rintangan perjuangan beliau yang banyak datang dari orang Sasak. Namun guru saya tak pernah mengajarkan kebencian. Saya tahu, ada yang tidak menyukainya, namun beliau tak pernah mengajarkan saya untuk membenci orang tersebut.

Beliau menukilkan pengalaman itu dalam sebuah lagu yakni “Sakit Jahil”. Beliau ingin menegaskan bahwa saya, atau kami yang belajar di NW mesti menjadi orang yang menger, (orang yang menge). Kewajiban orang menger dan menge ini ialah tidak bodoh, seperti orang jahil. Jadi, orang menge dan menger tidak boleh menanamkan kebencian sebagaimana ketidaksukaan orang jahil.

Sebelum saya ke Jawa, sungguh saya tak mengetahui NU secara luas (beliau melafazakan dengan NO). Saya bersyukur, guru saya sangat sering bercerita tentang ulamak-ulamak Jawa. Dan di akhir cerita, beliau mengajak saya, mengajak kami membaca fatihah untuk ulamak-ulamak Jawa tersebut yang rupanya ialah ulamak-ulamak NU. Dengan fasih beliau menceritakan urutan ulamak-ulamak tersebut dari Wali Songo sampai perjumpaan beliau dengan ulamak-ulamak Jawa tersebut di Mekah.

Semakin lama, saya semakin memahami apa yang dimaksudkan beliau. Setiap hari, guru saya menasehatkan untuk memperkuat NW. Menjadikan NW sebagai sampan perjuangan. Di sisi lain, beliau selalu mengatakan untuk menyambung ilmu dengan ulamak-ulamak Jawa tersebut. “Mek lalo aneng Jawe. Luek ulamak tono taokmek belajar.” Waktu itu, tentu saya berpikir, kenapa saya harus belajar kepada ulamak-ulamak Jawa padahal saya mempunyai guru yang sekelas beliau.

Namun beliau sangat luas. Saya diajarkan menyinta NW dan dalam waktu bersamaan diajarkan menghormati dan mencintai ulamak-ulamak Jawa. Sepanjang pengajian saya pada beliau, sangat sering ulamak-ulamak Jawa datang ke tempat beliau dan saya salah seorang yang ditugaskan melayani ulamak-ulamak Jawa tersebut. Saya diperintah untuk memberikan pelayanan setingkat kebaktian saya kepada beliau. Oleh karena itu, dapat saya katakan, beliau ialah guru pertama saya tentang NU. Hal yang sama tentang Muhammadiyah, beliau juga guru pertama saya.

Nah, amat sedikit potongan kisah di atas, namun bagi saya sebagai pecinta guru saya, sudah cukup sebagai alasan untuk mempertanyakan situasi sekarang ini. Beliau yang tak pernah mengharapkan balas budi dari manusia itu, tiba-tiba menjadi bulan-bulanan orang yang mempertentangkan beliau dengan kepentingan yang tak jelas.

Ya, tak jelas karena jika mengatasnamakan Sasak, mereka yang mempertentangkan beliau mungkin baru berbuat secuil untuk Sasak ini, bahkan bisa jadi belum berbuat apa-apa jika dibandingkan apa yang beliau tinggalkan untuk Sasak ini.

Akhirnya, sebagai murid beliau, saya ingin mengatakan dari sudut pandang berpikir santri yang sangat percaya karomah dan berkah guru. Jika yang mempertentangkan guru saya hanya karena mereka tidak suka kepada beliau, tidak simpatik kepada NW, silakan dipikir-pikir kembali.

Saya tak punya kuasa untuk membalas tindakan para pembenci itu. Namun saya yakin, Alloh SWT tidak akan tinggal diam jika hamba yang dikasihinya dinistakan. Saya tak tahu pasti, kapan dan bagaimana cara Alloh SWT menegur mereka. Namun jika tidak di dunia, pasti di akhirat.

Tentu saja, saya berdoa. Mudah-mudahan para pembenci dan pengonar itu bukan dari golongan santri karena hakikat ilmu kita sama. Wajib membela guru. Wajib membela ulamak. Durhaka kepada guru, tercerabut ilmu dan barokah dari diri kita. Jika pertentangan itu dilandasi kepentingan politik, biarlah mereka, politisi itu busakan mulut mereka. Namun kita sebagai santri, tak mungkin mengotori kemuliaan guru dan ulamak oleh bangkai nista politik.

Terlepas dari itu, sebagai orang Sasak yang NW dan sebagai manusia NW yang Sasak, saya sangat malu melihat tingkah polah orang Sasak: sungguh tak pandai menghargai salah satu orang Sasak terbaik. Mulen Sasak Lebung.

Malaysia, 24/01/2020